Friday, May 19, 2017

Mungkinkah Francesco Totti bermain bola selain di Roma?

Francesco Totti Pensiun
Aku membaca Football Italia. Dalam berita AS Roma berjudul Maldini: ‘Totti to Miami? Maybe…’ Tayang 18 Mei 2017. Nama Pangeran Roma Totti disebut, mendadak aku tergugah bersemangat. Aku pun putuskan untuk menyeduh segelas kopi terlebih dahulu, sebagai rasa hormatku kepada beliau. Menyimaklah aku kemudian.

Adakah kau ingin tahu isi daripada berita itu. Tidakkah kau penasaran. Inilah dia beberapa pengetahuan yang kutemukan di sana. Marilah kutuliskan kembali di sini.

Beginilah dalam Maldini: ‘Totti to Miami? Maybe…’

Pertama. Paolo Maldini berkata begini: Semua orang melakukan apa yang ia inginkan. Perkataan demikian meluncur saat ia ditanya apakah Pangeran Roma Totti bisa bergabung dengannya di Miami FC.

Kedua. AS Roma telah mengumumkan bahwa musim ini merupakan musim terakhir Francesco Totti sebagai pemain, akan tetapi Totti yang saat ini sudah berumur 40 tahun sedari awal bagai mengindikasikan bahwa ia masih ingin bermain. Atas situasi seperti itu, Paolo Maldini berkomentar: Bagiku itu adalah kesalahan komunikasi. Sering kali, pandangan tentang sepakbola mesti sesuai dengan keinginan klub. Mungkinkah Totti datang ke Miami? Semua orang melakukan apa yang dia inginkan.

Demikianlah.

Perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa legenda AC Milan Paolo Maldini, menurut data lanjutan yang kutemukan, dari tahun 2015 adalah co-owner klub Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL) Miami FC--berarti maksud kalimat bergabung bersama Maldini di Miami, dalam status Maldini sebagai co-owner Miami FC.

Marilah kuberitahukan terlebih dahulu sedikit tentangku sebenarnya kepadamu, saudaraku. Bahwa aku, sebetulnya dahulu adalah penggemar Juventus karena sosok pemain idolaku--il pinturicchio--Alessandro Del Piero. Demikian mengandung pesan kepadamu bahwasanya dahulu Er Pupone Francesco Totti bukanlah pemain idolaku--akan tetapi saat ini aku amat mencintai AS Roma dan Totti merupakan sosok yang kuhormati sebagai Pangeran Roma. Ini penting disampaikan agar engkau memahami opiniku nanti. (Atau ada bagusnya silahkan kau baca dulu ini: Del Piero Totti Sang Pangeran Cinta)

Begini. Dalam sudut pandangku sebagai sosok yang menghormati Totti. Aku setuju dengan pendapat Paolo Maldini bahwa pengumuman--yang bagai sepihak saja--dari Roma berkenaan dengan bahwasanya musim ini adalah musim terakhir Francesco Totti merupakan KESALAHAN KOMUNIKASI. Sebab Pangeran Roma Totti--sebagaimana disuratkan dalam berita di atas--bagai mengisyaratkan masih ada hasrat untuk bermain bola. Sehingga demikian bagai menyudutkan Francesco Totti untuk memang harus pensiun walaupun misal masih ingin bermain bola.

Namun, aku pun mestilah membayangkan juga menjadi AS Roma--biar adil. Tentulah AS Roma tahu bahwa tidak ada pemain yang sebesar Francesco Totti di AS Roma. Sehingga kebesaran AS Roma pastilah akan tergoyahkan kalau sampai kehilangan Francesco Totti, namun kegoyahan itu dapat diredam apabila dalam arti kehilangan Totti karena pensiun, sehingga itu artinya menjadikan Francesco Totti sebagai sosok yang membela hanyalah Roma satu-satunya. Dan kegoyahan itu bakalan terasa berdampak, apabila sampai kehilangan Francesco Totti karena pindah ke klub lain.

Paling tidak yang menjadi acuan pola pikirku adalah pengalamanku sendiri. Pengalamanku yang dulu pernah menggemari Juventus. Aku curiga, bukan aku saja satu-satunya yang kecewa ketika Alessandro Del Piero tidak diperbaharui kontraknya dan kemudian terbang ke Australia, untuk lantas memutuskan untuk ikut hengkang pula tidak lagi menjadi orang yang menggemari Juventus. Itu artinya, mestilah Juventus tidak pungkiri bahwa kehilangan Del Piero merupakan keguncangan yang luar biasa sesungguhnya--kerugian besar bagi Juventus telah kehilangan aku sebagai penggemar, haha.

Maksud pola pikirku adalah begini. Aku menaruh curiga. Apabila AS Roma sampai kehilangan Totti karena Totti semisal pergi ke Miami, maka orang-orang yang mencintai AS Roma karena alasan yang serupa denganku dulu ketika aku menggemari Juventus, mereka--saudara-saudaraku--itu berpotensi untuk menjadi seperti aku: balik membenci.

Aku dulu menggemari Juventus karena Del Piero. Saudara-saudaraku yang kumaksud menggemari AS Roma karena Totti. Del Piero dibuang ke Australia, dan aku jadi balik membenci Juventus. Totti masih ingin bermain--walaupun telah berusia 40 tahun--tapi AS Roma tidak memperbaharui kontrak Totti dengan membiarkan Totti pergi semisal ke Miami--patut diduga saudara-saudaraku yang kumaksud itu sebagian orang berpotensi untuk jadi balik membenci AS Roma. Begitu. Dan, kupikir, di sinilah, aku curiga, kenapa bisa sampai tercipta kesalahan komunikasi sebagaimana pandangan Paolo Maldini, karena AS Roma takut dibenci oleh sebagian penggemarnya. Ambil aman bagi AS Roma adalah ini: pengumuman musim ini adalah musim terakhir Totti di Roma, dengan begitu Totti pensiun di Roma, di wikipedia klub yang dibela Totti hanyalah Roma, dengan begitu kebesaran Roma tetap terjaga.

Marilah sekarang kukerucutkan konten ini. Di sini pun, aku mau main aman dalam beropini. Maka menurut sudut pandangku yang sempurna adalah begini: bagusnya memang bilamana Totti masih ingin bermain, maka musim ini bukanlah musim terakhir bagi Totti, melainkan Roma memberinya kontrak setahun lagi dengan pelatihnya nanti di musim depan bukanlah Luciano Spalletti.

Bukannya apa-apa, aku takutnya jikalau nanti yang terjadi adalah malah begini: eh ternyata Totti tidak jadi pensiun, melainkan masih berstatus sebagai pesepakbola, namun bermain bukan untuk Roma, misalkan untuk Miami. Maka aku khawatir terhadap saudara-saudaraku yang kumaksud, bahwa nanti mereka akan jadi sering bernyanyi Mungkinkah by Stinky.

"Mungkinkah kita kan selalu bersama walau terbentang jarak antara kita. Biarkan kupeluk erat bayangmu tuk melepaskan semua kerinduanku," Stinky.


Sumber tulisan: Football Italia
Sumber foto: The Sun

Comments
1 Comments

1 komentar so far

Forza Roma ! Go Totti


EmoticonEmoticon